Rabu, 30 April 2014

PEREMPUAN PEMBACA PUISI



Kalau ada perempuan yang tahan berkutat di kepalanya selama berhari-hari, berminggu-minggu, dan berbulan-bulan, maka perempuan itu adalah perempuan pembaca puisi. Dia menemukannya, acuh tak acuh, di pojok Benteng Vriedenburg, senja itu. Rambutnya tercerai, dandanannya menor, dengan bau tubuh Paris. Baju putih selengan membungkus tubuhnya yang jangkung, dengan renda-renda di pergelangannya. Trotoar Malioboro masih mengepulkan debu, senja itu, dan perempuan itu menebarkan aroma kegilaan. Dia baru menyadarinya setelah beberapa hari lewat.

“Siapa namamu,” sapanya. Perempuan itu menjawab dengan senyum. “Tentu saja namamu bukan ‘Senyum’ ‘kan?” sambungnya, tak sabar.

Perempuan itu tertawa kecil. “Aku tak punya ingatan untuk itu,” sahutnya setelah beberapa saat.

Apa pula ini, gerutunya dalam hati. Perempuan itu mengkikik. Bibirnya merampat, mengukir dua lesung di pipinya.

“Namaku Puisi,” setelah puas mengkikik.

Ini juga, apa pula. Dia baru saja berhasil memupuk keberanian untuk menggoda perempuan, dan kini perempuan itu yang justru menggodanya.

“Namaku Puisi, dan namamu adalah Buku!” sederet gigi putih itu kini kian jelas terlihat, mengkilap sepanjang derai tawanya.

Apa yang bisa dilakukan lelaki pada saat itu hanyalah ikut tertawa. Dan dia juga ikut tertawa, tapi kecil saja. #prosa05





Tidak ada komentar:

Posting Komentar